Dari Turki ke markas Sabilu Taubah Official
Malam itulah, Markas Majelis Sabilu Taubah seperti sebuah panci besar yang kini baru saja diangkat dari sebuah tungkunya. Panas, rame, dan beruap oleh harapan. Riuh jamaahnya pecah ketika ada seorang perempuan telah berdiri di samping penerjemahnya. Tubuhnya sangat tinggi menjulang, parasnya sangat teduh, hidungnya membangir seolah olah membawa hembusan angin Anatolia ke tengah tengah kampung Jawa. Dia memperkenalkan dirinya, “Assalamualaikum wr wb , Gus Iqdam,” dengan logat logat asing yang terucap salam terasa seperti bunga bunga impor yang telah mekar di tanah lokal.
“Waalaikumsalam wr wb,” jawab Gus Iqdam dengan santai, lalu menimpali, “What is your name?” Jamaah tertawa berbahak bahak, seperti sebuah gelombang kecil yang memukul tepi. Perempuan itu dialah —Isabella—dia menjawab panjang lebar dalam sebuah kata bahasa Inggris. Gus Iqdam manggut-manggut, lalu nyeletuk, “Wuih, dowo, Nick name, nick name.” Tawa sedang meledak. “Nick name is Isabel,” berkata.
“What do you came from?”
“Turki.”
“Karo pasar?”
Gerrrr! Tawa para jamaah pecah seperti sebuah petasan. Isabella sangat kebingungan, “What is pasar?”
“Pasar is market,” kata Gus Iqdam. Humor itulah bukan sekadar lucu lucuan; dia adalah jembatan. Dalam kata psikologi komunikasi, humor berfungsi sebagai sebuah ice breaker, seperti katanya Sigmund Freud tentang humor tersebut sebagai pelepas sebuah ketegangan, yang membuat bahasa yang berbeda beda menjadi pelukan yang sama.
“Lha ini bingung jagongannya awakmu dewe. Kenapa bisa sampai dini gimana ceritanya?” tanya Gus Iqdam. Isabella bercerita tentang aplikasi TikTok, tentang ceramah para ulama Indonesia yang sering dia dengarkan, tentang Gus Iqdam yang paling sangat dia sukai. Di sinilah, teori Viktor Frankl terasa di hidup: manusia di kendalikan oleh makna. Isabella menemukan arti pada dakwah yang telah mendunia, bahasa yag sangat sederhana, humor yang hangat, dan penyambutan tanpa syarat. Media sosial hanya sebuah kendaraan; makna adalah bahan bakarnya.
“Apa yang disukai oleh kita?” Gus Iqdam mengajukan pertanyaannha. Dia selalu begitu, membuat alasan. Dalam teori self determination (Deci & Ryan), motivasi yang sangat kuat lahir dari kebutuhannya akan terhubungannya. Gus Iqdam hanya ingin memastikan jamaah yang datang bukan karena trending, tapi karena sebuah hati yang menemukan rumah. Isabella menjawab pertanyaan dengan wajah berbinar binar: dia merasa sangat bahagia, merasa diterima di markas, merasa sangat dekat. “Very… very… very happy.”
Lalu si Isabella mengundangnya, meminta Gus Iqdam datang ke Turki. Jamaah menahan nafas. Gus Iqdam tersenyum senang, “Ya sudah, besok.” suara Tawa kembali pecah. Ajakan dakwah lintas di negara ini selaras dengan teori social learning Albert Bandura, keteladanan gus iqdam menular. Dakwah yang ramah tamah membuat orang orang ingin membawa cahayanya pulang ke rumahnya, ke mana pun kaki nenginjak.
Seperti biasanya, Gus Iqdam menutup sebuah dialog dengan memberi sebuah kenang-kenangannya dan sejumlah duit. Bukan karna pamer, tapi kata: dakwah itulah memberi, bukan hanya mengambil. Malam itulah, bahasa Jawa dan Inggris saling bersala salaman; tawa kini menjadi penerjemah yang paling jujur.
Pembelajaran: Dakwah Gus Iqdam mengajarkan kita bahwa pesan yang sampai ialah pesan yang menghangatkan. Humor membuka pintu masuk, makna menahan orang yang ada di dalamnya. Bertanya “kenapa hadir” bukan interogasi, melainkan hanya undangan untuk menemukan sebuah alasan terdalamnya. Ketika sebuah dakwah memanusiakan manusia, jarak antar bahasa, tiap negara, dan budaya akan meruntuh dengan sendirinya.
*Abdullah Al-Kafi
Pegiat Literasi/ Penulis Buku Gus Iqdam/ Guru MTs Negeri 2 Magelang.
Komentar
Posting Komentar